Senin, 31 Oktober 2016

MACAM-MACAM TUMPATAN
DALAM KEDOKTERAN GIGI

Latar Belakang

Pemakaian tumpatan  sangat diperlukan dalam bidang kedokteran gigi. Tujuan tumpatan adalah menutup rongga jalan masuk saluran akar, mencegah kontaminasi sistem saluran akar dengan saliva, menghambat floral bakteri pada rongga mulut, mencegah masuknya sisa makanan, benda asing ke dalam rongga pulpa. Dengan demikian bahan yang dipakai sangat bervariasi bergantung pada waktu, beban dan keausan oklusal, kerumitan akses dan banyak sedikitnya struktur gigi yang hilang.

Restorasi merupakan perawatan untuk mengembalikan struktur anatomi dan
fungsi pada gigi, yang disebabkan karies, fraktur, atrisi, abrasi dan erosi. Restorasi dapat dibagi atas dua bagian yaitu plastis dan rigid. Restorasi plastis adalah teknik restorasi dimana preparasi dan pengisian tumpatan dikerjakan pada satu kali kunjungan, tidak memerlukan fasilitas laboratorium dan murah. Tumpatan plastis cenderung digunakan ketika struktur gigi cukup banyak untuk mempertahankan integritas dengan bahan tumpatan. Restorasi rigid merupakan restorasi yang dibuat di laboratorium dental dengan menggunakan model cetakan gigi yang dipreparasi kemudian disemenkan pada gigi. Umumnya restorasi ini membutuhkan kunjungan berulang dan penempatan tumpatan sementara sehingga lebih mahal untuk pasien.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu apa itu restorasi rigid dan restorasi plastis serta jenis-jenisnya.

Tujuan
Tujuan pembuatan tulisan ini adalah untuk mengetahui pengertian, indikasi dan kontraindikasi, kelebihan dan kekurangan serta teknik pembuatan restorasi rigid dan restorasi plastis.

Isi
1.  Restorasi Rigid
Restorasi rigid yaitu restorasi yang dibuat di luar mulut dari bahan yang rigid atau kaku dan di semen pada preparasi kavitas gigi dengan bahan perantara golongan semen. Restorasi rigid dapat dibagi menjadi restorasi ektrakoronal, intrakoronal dan interadikuler (Dwi WAF, 2011).

I. Restorasi Ekstrakoronal
Salah satu contoh restorasi ekstrakoronal yaitu mahkota penuh atau complete crown. Complete crown merupakan restorasi yang menutupi seluruh permukaan mahkota klinis dari suatu gigi asli. Terdapat berbagai jenis complete crown, diantaranya:

A. All metal crown
Mahkota ini sering disebut dengan mahkota tuang penuh atau full cast crown. Merupakan suatu restorasi yang menyelubungi permukaan gigi dari logam campur yang dituang.Indikasinya yaitu untuk gigi molar dan premolar rahang atas dan bawah, penderita dengan oklusi dan artikulasi yang berat, tekanan kunyah besar, tidak memerlukan estetik, gigi dengan karies cervikal, dekalsifikasi, dan enamel hipoplasi.Kontraindikasinya yaitusisa mahkota gigi tidak cukup terutama pada gigi dengan pulpa vital, memerlukan estetik pasien dengan OH buruk sehingga restorasi mudah tarnish, gusi sensitif terhadap logam (Dwi WAF, 2011).

B. All ceramic crown (mahkota porselen)
Teknologi porselen gigi merupakan bidang ilmu paling cepat perkembangannya dalam bahan kedokteran gigi. Porselen gigi umumnya digunakan untuk memulihkan gigi yang rusak ataupun patah dikarenakan factor estetiknya yang sangat baik, resistensi pemakaian, perubahan kimiawi yang lambat, dan konduktifitas panas yang rendah. Terlebih lagi, porselen mempunyai kecocokan yang cukup baik dengan karakteristik struktur gigi.
Komposisi porselen gigi konvensional adalah keramik vitreus (seperti kaca) yang berbasis pada anyaman silica (SiO2) dan feldspar potas (K2O.Al2O3.6SiO2) atau feldspar soda (Na2O.Al2O3.6SiO2) atau keduanya. Pigmen, bahan opak dan kaca ditambahkan untuk mengontrol temperature penggabungan, temperatur sintering, koefisien ekspansi thermal, dan kelarutan. Feldspar yang digunakan untuk porselen gigi relatif murni dan tidak berwarna. Jadi harus ditambahkan pigmen untuk mendapatkan corak dari gigi-gigi asli atau warna dari bahan restorasi sewarna gigi yang sesuai dengan gigi-gigi tetangganya. Mahkota porselen mempunyai nilai estetik tinggi, tidak mengalami korosi, tingkat kepuasan pasien tinggi, namun biayanyamahal dan kekuatan rendah dibandingkan dengan mahkota metal-porselen. Indikasinya membutuhkan estetik tinggi, Tooth discoloration,malposisi, gigi yang telah dirawat endodonsi dengan pasak dan inti.Kontraindikasinya yaituindeks karies tinggi, distribusi beban di oklusal tidak baik, dan bruxism (Dwi WAF, 2011).

 Gambar 1. mahkota emas tuang penuh

 
 Gambar 2. all ceramics crown/ mahkota porselen

C. Porcelain fused to metal
Pemilihan restorasi porselen fused to metal sebagai restorasi akhir pasca perawatan saluran akar karena mampu memberikan keuntungan ganda, yaitu dari segi kekuatan dan dari segi estetik. Lapisan logam sebagai substruktur mahkota jaket porselen fused to metal akan mendukung lapisan porselen di atasnya sehingga mengurangi sifat getas (brittle) dari bahan porselen, memiliki kerapatan tepi dan daya tahan yang baik. Sementara lapisan porselen akan memberikan penampilan yang estetik. Gigi pasca perawatan saluran akar yang direstorasi dengan mahkota porselen fused to metal tingkat keberhasilan perawatannya tinggi.

II. Restorasi Intrakoronal
A. Inlay dan Onlay Logam
Inlay merupakan restorasi intrakoronal bila kerusakan mengenai sebagian cuspatau tambalan yang berada di antara cusp, sehingga ukurannya biasanya tidak begitu luas. Onlay merupakan restorasi intrakoronal bila kerusakan mengenai lebih dari 1 cusp atau lebih dari 2/3 dataran oklusal karena sisa jaringan gigi yang tersisa sudah lemah (Dwi WAF, 2011).

 Gambar 3. Lapisan metal pada mahkota porcelain fused to metal

Gambar 4. Mahkota porcelain fused to metalgigi posterior

Gambar 5. Perbedaan Inlay dan Onlay

Gambar 6. Preparasi Inlay

 Gambar 7. Preparasi Onlay

B. Inlay dan Onlay Porselen
Restorasi inlay dan onlay porselen menjadi populer untuk restorasi gigi posterior dan memberikan penampilan estestik yang lebih alamiah dibandingkan dengan inlay dan onlay logam tuang dan lebih tahan abrasi dibandingkan dengan resin komposit. Porselen tidak sekuat logam tuang tetapi jika sudah berikatan dengan permukaan email akan menguat pada gigi dengan cara yang sama seperti pada restorasi resin berlapis komposit atau semen ionomer-resin komposit (Dwi WAF, 2011).

C. Inlay dan Onlay Komposit (indirect)
Restorasi dengan resin komposit dapat dilakukan secara indirect (tidak langsung), yaitu berupa inlay dan onlay. Bahan resin komposit untuk tambalan inlay
lebih sering digunakan daripada pemakaian bahan keramik, sebab kekerasan bahan keramik menyebabkan kesulitan apabila diperlukan penyesuaian oklusal atau kontur, mudah pecah saat pemasangan percobaan sehingga menyulitkan operator. Sedangkan resin komposit dapat dipoles kembali dengan mudah dan efektif, lebih murah serta restorasi yang berlebihan pada daerah gingival dapat dibuang hanya dengan menggunakan hand instrument.Indikasinya:menggantikan tambalan lama (amalgam) dan atau yang rusak dengan memperhatikan nilai estetik
terutama pada restorasi gigi posterior, memperbaiki restorasi yang tidak sempurna atau kurang baik, serta fraktur yang terlalu besar dan apabila pembuatan mahkota
bukan merupakan indikasi. Keuntungan restorasi secara indirect resin komposit dibanding restorasi secara direct adalah dapat dihindarinya konstraksi akibat polimerisasi bahan komposit, sehingga kebocoran tepi dapat dihindari. Kontak pada bagian proksimal dapat dibuat rapat dan
pembentukan kontur anatomis lebih mudah. Sedangkan kekurangan restorasi secara indirect resin komposit adalah adanya ketergantungan restorasi pada semen perekat (lutting cement). Isolasi yang kurang baik serta polimerisasi yang kurang sempurna dari semen akan berakibat negatif terhadap restorasi tersebut (Dwi WAF, 2011).

D. Indirect Komposit Inlay dengan Fibers
Untuk gigi dengan restorasi yang besar denngan sedikit enamel tersisa, fibers dapat digunakan sebagai bahan dasar pada veneer komposit. Pertimbangan paling penting untuk mencapai daya tahan klinis yang lama pada resin inlay yang dibuat melalui tahap laboratosis adalah penguatan gigi. Untuk menguatkan resin komposit, penambahan fibers digabungkan ke dalam matriks resin, selama pembuatan dan sebelum proses curing (Dwi WAF, 2011).

Gambar 8. Inlay (a) inlay porselen (b) inlay composite

Gambar 9. Gambaran oklusal preoperative dari komposit yang rusak dengan karies sekunder pada molar satu kiri atas (a), Preparasi selesai (b), Iinlay resin komposit dengan fiber yang telah selesai dibuat (c)

Gambar 12. Mahkota ¾

E. Mahkota ¾
Disebut mahkota tiga per empat oleh karena dari 4 permukaan gigi, hanya 3 permukaan yang ditutup oleh mahkota.Bagian yang tidak tertutup oleh mahkota adalah bagian labial
atau bukal.Mahkota sebagian terutama dipakai sebagai retainer jembatan. Preparasinya memerlukan pembuangan jaringan gigi yang jauh lebih sedikit dibandingkan untuk mahkota
penuh.Mahkota tiga per empat dapat merupakan retainer yang baik pada gigi jika:
1. Bagian labial atau bukal dalam keadaan baik, histologis, anatomis, maupun estetis.
2. Cukup tebal untuk membuat parit–parit proksimal untuk memberi retensi.
3. Mempunyai mahkota klinis yang cukup panjang, dan besar.
4. Mempunyai kedudukan normal (tidak malposisi).
5. Gigi-gigi yang cocok untuk dibuat mahkota tiga per empat adalah incisivus sentral, premolar rahang atas, caninus dan premolar kedua rahang bawah. Pada gigi ini terdapat permukaan proksimal yang cukup lebar untuk dibuat parit sebagai retensi.
6. Sebagai retainer untuk short span bridge.

III. Restorasi Intradikuler
A. Mahkota Pasak
Kerusakan mahkota gigi asli pada gigi posterior maupun anterior yang cukup parah akan menimbulkan masalah retensi, permasalahan ini dapat ditanggulangi dengan menggunakan pasak. Pada kebanyakan kasus gigi sudah dirawat saluran akar, khususnya pada gigi-gigi dengan
saluran akar tunggal yang lurus. Keadaan ini sebaiknya harus diantisipasi terlebih dahulu sebelum melakukan pengisian saluran akar, sehingga dapat digunakan teknik pengisian yang memungkinkan untuk membantu retesi.Pasak adalah suatu prosedur untuk membangun kembali suatu gigi yang bertujuan menyediakan dukungan yang sesuai untuk suatu mahkota. Pasak seperti jangkar untuk menempatkan mahkota. Pasak ditempatkan di dalam akar gigi yang telah dilakukan perawatan saluran akar.Terdiri dariporos dan post/tonggak yang disementasi
pada saluran akar. Bagian yang lain berupa jacket crown atau veneer crown atau cast gold crown.Indikasinya:gigi pasca perawatanendodontia,memperbaiki inklinasi gigi. Kontraindikasinya: jaringan yang mendukung gigi tidak cukup, OH buruk, dinding saluran akar tipis, resorpsi procesus alveolaris lebih dari 1/3.Pasak juga bisa dilakukan pada gigi posterior (Dwi WAF, 2011).

B. Mahkota pasak fiber reinforced
composite.
Pemilihan jenis pasak yang digunakan penting untuk mendapatkan retensi yang maksimal dengan menghilangkan seminimal mungkin struktur jaringan gigi. Akhir-akhir ini, jenis pasak yang digunakan untuk retensi gigi yang telah dirawat saluran akar telah mengalami perubahan dari bahan yang kaku (pasak metal dan zirconium) menjadi bahan yang memiliki karakteristik mekanis menyerupai dentin (pasak fiber dan resin komposit), karena kegagalan restorasi dengan retensi intraradikuler dapat terjadi karena fraktur pasak, kehilangan retensi dan fraktur mahkota serta akar, sehingga gigi akhirnya harus diekstraksi. Pasak metal digunakan untuk menahan inti, menggantikan struktur gigi yang hilang dan ditutup dengan mahkota penuh, tanpa memperhatikan estetik. Sejalan dengan meningkatnya segi estetik, restorasi pasak dan inti sewarna gigi menjadi pilihan untuk restorasi gigi non vital (Dwi WAF, 2011).

Pasak fiber dapat dilekatkan pada dentin saluran akar dengan menggunakan semen resin. Pasak fiber terbuat dari seratserat karbon, kuarsa, silica,zirkonia atau kaca dalam satu matriks epoksi resin. Secara kimia, pasak fiber sesuai dengan bahan dasar resin yang digunakan untuk sementasi yaitu Bis-GMA.1 Pasak ini terbuat dari serat berdiameter 7-10 mikrometer dan dikelilingi oleh matriks resin polimer yang umumnya berupa resin epoksi. Bahan inti dan semen resin dapat berikatan dengan pasak jenis ini. Scanning electron microscope (SEM) menunjukkan pembentukan lapisan resin tagshybrid. Bonding yang baik akan meminimalkan efek
ungkitan di dalam saluran akar sehingga dapat digunakan pasak dengan ukuran lebih pendek dan diameter lebih kecil (Dwi WAF, 2011).

Pasak fiber, semen resin, bahan inti resin komposit, dan dentin memiliki modulus elastisitas yang hampir sama, sehingga meningkatkan keberhasilan restorasi, dibandingkan dengan pasak dan inti metal. Pasak fiber memiliki modulus elastisitas yang hamper sama dengan dentin, yaitu 20 GPa (modulus elastisitas dentin = 18 GPa, pasak metal prefabricated = 200 GPa dan pasak keramik=150 GPa), sehingga pasak fiber lebih lentur daripada pasak metal, mempunyai sifat biokompatibel terhadap dentin dan tahan terhadap korosi, serta mudah diambil dari saluran akar bila terjadi kegagalan dalam perawatan saluran akar (Dwi WAF, 2011).

Keuntungan pasak fiber adalah dapat diindikasikan untuk saluran akar yang lebar, dinding saluran akar yang tipis misalnya pada akar yang belum terbentuk sempurna.selain itu, pasak fiber juga memiliki keuntungan dari segi estetik, karena pasak ini memiliki warna sesuai dengan warna gigi, sehingga tidak menimbulkan bayangan warna keabu-abuan pada gigi yang telah direstorasi. Hal ini tidak hanya berperan pada gigi anterior tetapi juga pada gigi posterior. Preparasi saluran akar pasak dilakukan hingga kira-kira tersisa 4,5 mm gutta percha pada bagian apical, lalu pasak fiber disementasi dengan menggunakan semen resin. Setelah itu kavitas ditutup dengan tumpatan resin kompositt hingga penuh dan kelebihan pasak fiber dipotong sebatas permukaan oklusal (Dwi WAF, 2011).

2.  Restorasi Plastis
Restorasi plastis adalah bahan restorasi yang lunak dan bisa ditempa pada saat pemasangan serta nantinya akan mengeras ( Ireland, Robert 2015), contohnya :
      A. Logam
1.     Amalgam
      Dental amalgam telah banyak digunakan sebagai bahan restorasi karena mudah penempatannya dan relatif murah. Berwarna perak dan dipadatkan ke dalam preparasi dalam potongan-potongan kecil berturutan yang dalam beberapa jam, menjadi massa yang keras dan dapat menahan tekanan pengunyahan. Oleh karena itu, amalgam sering digunakan untuk restorasi pada permukaan oklusal (kunyah) gigi posterior dan kontak proksimal posterior, tetapi jika estetika tidak menjadi masalah. (Scheid, R.C., 2015)

       Hingga saat ini biaya pengobatan untuk pasien sakit gigi dengan menggunakan bahan paduan logam amalgam relatif murah, jika dibandingkan dengan penggunaan bahan tambal gigi jenis lain seperti komposit resin. Oleh karena itu, khususnya untuk masyarakat golongan menengah ke bawah masih menggunakan paduan amalgam untuk tambal gigi. Tetapi bahan paduan amalgam untuk tambal gigi masih diimpor dari luar negeri, sehingga dalam pengadaanya masih tergantung dari luar negeri. Agar supaya dalam pengadaanya tidak selalu ada ketergantungan dengan luar negeri diperlukan penguasaan teknologi pembuatan bahan amalgam untuk tambal gigi. ( Yuswono dkk, 2007)Logam paduan amalgam untuk keperluan medis ini, dalam proses pembuatannya melibatkan  bidang metalurgi fisik. Pembuatannya dimulai dari pembuatan serbuk dari bahan ingot paduan logam perak (Ag-Sn-Cu-Zn). Selanjutnta paduan amalgam yang dibuat sebagai tambal gigi adalah merupakan hasil dari pengerjaan setting, yaitu Hg cair dicampur dengan serbuk logam paduan Ag pada suhu kamar. ( Yuswono dkk, 2007)

    Dalam perkembangan pembuatan paduan amalgam akhir-akhir ini, para dokter gigi cenderung menggunakan amalgam dengan kandungan Cu tinggi. Alasan digunakannya bahan ini mempunyai ketahanan korosi terhadap cairan yang dikeluarkan di dalam mulut, seperti air ludah (saliva). ( Yuswono dkk, 2007)

 B. Non Logam
2.     Resin Komposit                                                                                                          
Resin komposit bahan restorasi yang sewarna dengan gigi, yang diaplikasikan ke dalam preparasi
dengan konsistensi seperti adonan (dough-like). Bahan akan mengeras dengan cepat apabila dipaparkan terhadap sumber sinar. Pada mulanya, dengan mempertimbangkan kekuatan dan resistensi terhadap abrai, resin komposit secara historis digunakan untuk merestorasi permukaan proksimal gigi anterior dan permukaan fasial gigi yang estetika menjadi faktor utama. Generasi bahan restorasi estetis yang lebih baru mempunyai kinerja yang lebih baik di daerah posterior, sehingga komposit menggantikan amalgam sebagai bahan pilihan untuk lesi kelas I dan kelas II yang kecil. Satu penelitian longitudinal menempatkan restorasi komposit yang telah digunakan 10 tahun (menggunakan sistem evaluasi US Public Health) sebagai bahan yang memberi kepuasan 90% baik dalam stabilitas warna, kehalusan karies, dan respos pulpa. Hanya adaptasi bagian tepi yang skornya di bawah 90%, yaitu 81%. Dengan peningkatan sifat fisik akhir-akhir ini, generasi agen bonding dentin baru, yang dapat mengetsa email dan dentin secara simultan, dan generasi baru paket resin komposit, bahan restorasi estetis ini akan menjadi semakin sering digunakan. (Scheid, R.C., 2015)

Resin komposit adalah salah satu bahan kedokteran gigi yang terus berkembang hingga saat ini. Bowen memperkenalkan komposit pertama kali pada tahun 1962. Komposit dapat didefinisikan sebagai gabungan dua atau lebih bahan berbeda dengan sifat-sifat yang unggul atau lebih baik dari pada bahan itu sendiri. Komposit merupakan salah satu bahan tumpatan yang dapat memenuhi permintaan pasien mengenai estetika, karena dapat disesuaikan dengan warna gigi dan juga memiliki sifat biokompabilitas yang tinggi. Resin komposit memiliki kelemahan yaitu, penyusutan atau pengerutan yang terjadi pada saat polimerisasi. Kelemahan ini yang sampai sekarang masih menjadi hambatan untuk mendapatkan hasil tumpatan yang baik dan bertahan lama. Kelemahan lain yang terdapat pada resin komposit yaitu perbedaan koefisien ekspansi termal antara struktur gigi dan resin komposit. Perbedaan itu akan mempengaruhi kerapatan tepi restorasi antara resin komposit dan dinding kavitas. Bahan komposit modern mengandung sejumlah komponen yaitu matriks resin, partikel pengisi anorganik, coupling (silane) yang diperlukan untuk memberikan ikatan antara bahan pengisi anorganik dan matriks resin, serta aktivatorinisiator yang diperlukan untuk polimerisasi resin. Bahan coupling dan aktivator-inisiator diperlukan juga untuk meningkatkan efektivitas dan ketahanan bahan. Komponen tambahan lain yaitu sejumlah kecil bahan yang berfungsi untuk meningkatkan stabilitas warna (penyerap sinar ultra violet) dan mencegah polimerisasi dini atau bahan penghambat seperti hidroquinon. Kontak permukaan antara restorasi resin komposit nanohybrid dan kavitas gigi masih dapat menyebabkan terjadinya kegagalan tumpatan karena pengerutan yang terjadi saat polimerisasi dan memiliki kelemahan yaitu tidak dapat mencapai daerah tertentu sehingga dapat mengakibatkan terjadinya celah. Celah ini yang dapat mengakibatkan terjadinya kebocoran miko. Resin   komposit  yang   diaktivasi    sinar    akan    mengalami   pengerutan polimerisasi ke arah sumber sinar. Pengerutan polimerisasi berhubungan dengan c-faktor (faktor konfigurasi). C-faktor merupakan perbandingan antara permukaan yang berikatan dengan permukaan bebas. Semakin luas permukaan terikat, kontraksi akan semakin besar. Ukuran partikel dan komposisi matriks resin mempengaruhi besarnya pengerutan atau penyusutan dan modulus elastisitas bahan. Resin komposit menunjukkan 6 - 8 kali lebih besar ekspansi termalnya daripada struktur jaringan disekitar gigi. Pengerutan selama kontraksi termal mungkin membuat tegangan permukaan yang tinggi pada komposit yang dipanaskan pada suhu tertentu. Jika komposit direndam pada hot water bath (55º C) dapat mempercepat hidrolisis komponen material interfacial, penyerapan air, dan kerusakan yang terjadi pada kolagen atau buruknya polimerisasi resin oligomers. Menurut Auliasari, terjadi pengerutan pada komposit microfiller dan nanofiller yang dilakukan perubahan suhu (thermocycling) antara 5º C dan 60º C setiap satu menit selama 10 kali, dan menurut Mulyani et al juga terjadi penyusutan pada komposit nanohybrid yang dilakukan thermocycling sebanyak 500 kali. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut menyatakan bahwa komposit dapat mengerut atau menyusut saat terjadi perubahan suhu. Suatu pengerutan pada komposit yang dapat menyebabkan terbentuknya celah dan mengakibatkan kebocoran mikro, maka dapat membentuk karies sekunder pada gigi. Dari uraian diatas maka dalam tulisan ini akan diteliti kebocoran mikro dari efek suhu terhadap pengerutan komposit nanohybrid. (Sari, 2016)

3.     Ionomer Kaca
Ionomer dan bahan terkait seperti resin-modified glass ionomer direkomendasikan untuk perawatan karies pada permukaan akar atau di atas lesi erosi. Bahan ini terikat secara kimia terhadap dentin, cukup estetis, dan berisi fluoride, yang melindungi gigi terhadap karies yang akan datang.
(Scheid, R.C., 2015)

Semen ionomer kaca (SIK) pertama kali dikenal dalam profesi kedokteran gigi sekitar 30 tahun yang lalu. Semen ionomer kaca adalah material kedokteran gigi yang salah satunya bisa digunakan untuk bahan restoratif. Semen ionomer kaca terdiri dari bubuk kalsium-alumino-silika-gelas dan cairan homo- atau kopolimer asam akrilik. Semen ionomer kaca memiliki karateristik unik yang membuat semen ini selain berguna sebagai material restoratif juga sebagai material adesif, termasuk adesi terhadap struktur gigi dan metal base. Bahan ini bersifat antikariogenik oleh karena mampu melepaskan flourida, mempunyai thermal compatibility dengan enamel gigi, serta mempunyai biocompatibility yang baik. SIK digunakan terutama untuk restorasi lesi abrasi/erosi serta sebagai bahan luting untuk restorasi mahkota dan jembatan gigi. Aplikasi klinis SIK digunakan secara luas termasuk untuk restorasi lesi proksimal, restorasi oklusal pada gigi sulung, serta sebagai basis dan liners dari suatu kavitas. (Aviandani, 2012)

Semen ionomer kaca tersedia dalam bentuk kemasan botol dan kapsul (encapsulated). Untuk SIK dalam kemasan botol, rasio bubuk dan cairan telah ditentukan sesuai dengan aturan pabrik dan diaduk oleh operator secara manual. Teknik pengadukan pada SIK dapat dilakukan melalui dua cara yaitu secara mekanik (kocok dan rotasi) serta secara manual. Pada teknik pengadukan secara mekanik, dapat dilakukan pada SIK yang encapsulated, menggunakan mesin pengaduk dengan kecepatan pengadukan yang terstandarisasi oleh pabrik. Sedangkan pada teknik pengadukan secara manual dilakukan pada SIK dalam bentuk kemasan botol (bubuk dan cairan terpisah), menggunakan spatula plastik di atas paper pad secara manual. Teknik pengadukan secara manual sangat dipengaruhi oleh kemampuan operator dalam mengaduk bubuk dan cairan SIK. Oleh karena itu, hasil adonan SIK yang diaduk secara manual cenderung kurang homogen dibandingkan dengan hasil adonan SIK yang diaduk secara mekanik. (Aviandani, 2012)

Saat ini encapsulated SIK mulai dikenal di kalangan dokter gigi karena kepraktisannya. Keuntungan encapsulated SIK adalah rasio bubuk dan cairan sudah tersedia sesuai dengan aturan pabrik, hanya tinggal diaduk secara mekanik oleh mesin pengaduk. Rasio bubuk dan cairan serta proses pengadukan telah terstandarisasi sesuai dengan aturan pabrik sehingga functional properties dari SIK tersebut tidak dipengaruhi oleh faktor kesalahan operator. (Aviandani, 2012)
Kebocoran tepi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan tumpatan material restoratif dalam rongga mulut. Kebocoran tepi merupakan suatu celah yang terdapat antara dinding kavitas dengan tumpatan/restorasi yang terjadi akibat kontraksi bahan restorasi. Kebocoran tepi dapat menjadi tempat masuknya bakteri, asam, enzim, cairan dan ion-ion. Kebocoran tepi pada tumpatan dapat menyebabkan terjadinya karies sekunder dan postoperatif sensitivity. Postoperatif sensitivity disebabkan oleh cairan dan bakteri yang bergerak keluar masuk melalui celah antara pertemuan gigi dan tumpatan. Apabila pulpa teriritasi oleh pergerakan cairan atau sisa metabolisme bakteri (asam) tersebut, maka akan timbul rasa sakit/nyeri. Kebocoran tepi juga dapat menyebabkan staining/perubahan warna pada daerah margin restorasi. (Aviandani, 2012)

Teknik pengadukan yang berbeda dapat secara signifikan mengubah hasil akhir dari SIK baik dari sifat mekanik, porositas, kemungkinan besar juga kebocoran tepi yang dihasilkan dari tumpatan SIK. Homogenitas dari tumpatan SIK sangat bergantung pada teknik pengadukan yang digunakan oleh operator dalam proses pengadukan tumpatan SIK, hal tersebut mempengaruhi sela marginal yang dihasilkan oleh tumpatan SIK. Hasil penelitian lain menunjukan pada SIK tipe restoratif perbedaan teknik pengadukan secara mekanik maupun secara manual tidak terlalu mempengaruhi porositas yang dihasilkan oleh tumpatan SIK. (Aviandani, 2012)

Semen ionomer kaca sebagai salah satu waterbased material yang rentan terhadap desikasi ataupun kontaminasi air maupun udara selama fase awal proses setting. Kontaminasi dengan air maupun udara dapat menyebabkan SIK mengalami pelarutan serta daya adhesi SIK dengan permukaan gigi akan menurun. Maturasi dari material SIK berlangsung kurang lebih 24 jam. Oleh karena itu, agar diperoleh maturasi material SIK yang sempurna, selama proses maturasi dibutuhkan perlindungan pada permukaan tumpatan SIK berupa pemberian varnish. Varnish terbukti mencegah tumpatan SIK dari kekeringan selama proses setting/maturasi dengan cara mengubah mekanisme water loss dari tumpatan SIK8 serta varnish juga terbukti dalam mencegah kontaminasi air pada saat proses setting/maturasi tumpatan SIK. (Aviandani, 2012)

Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh teknik pengadukan (mekanik elektrik dan manual) serta pengaruh pemberian varnish terhadap kebocoran tepi tumpatan SIK tipe restoratif. (Aviandani, 2012)

Kesimpulan
-       Restorasi rigid yaitu restorasi yang dibuat di luar mulut dari bahan yang rigid atau kaku dan di semen pada kavitas gigi dengan perantara semen.
-       Restorasi rigid dapat berupa restorasi ektrakoronal (complete crown), intrakoronal (inlay, onlay, mahkota ¾) dan intradikuler (mahkota pasak dan Mahkota pasak fiber reinforced composite).
-       Restorasi plastis adalah bahan restorasi yang lunak dan bisa ditempa pada saat pemasangan serta nantinya akan mengeras.
-       Restorasi plastis dapat berupa logam (amalgam), non logam (resin komposit, ionomer kaca)

Saran
Pembaca diharapkan dapat mengetahui, memahami, dan membedakan apa itu restorasi rigid dan restorasi plastis.

Referensi
1.     Dwi Warna Aju Fatmawati.2011. MACAM-MACAM RESTORASI RIGID PASCA PERAWATANENDODONTIA. J.K.G Unej, Stomatognatic (J.K.G Unej) Vol. 8 No. 2 2011: 96-102.Jember
2.     Aviandani, M. J., Elly Munadziroh, dan Moh. Yogiartono. 2012. Perbedaan Kebocoran Tepi Tumpatan Semen Ionomer Kaca dengan Pengadukan Secara Mekanik Elektrik dan Manual. Jurnal PDGI, Vol. 61, No. 3 September-Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar